• Tiga Puluh September dalam Kaleidoskop

    Monday, 02 October 2017 18:41
  • Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di PTA Padang

    Monday, 02 October 2017 12:44
  • KUNJUNGAN KARO KEUANGAN MA KE PTA PADANG

    Wednesday, 20 September 2017 10:36
  • Pelatihan Assessor Internal Sertifikasi Akreditasi Penjaminan Mutu Pengadilan Agama di Lingkungan Pengadilan Tinggi Agama Padang

    Thursday, 14 September 2017 15:17
  • PEMBINAAN DAN DEKLARASI AKREDITASI PENJAMINAN MUTU PENGADILAN AGAMA SE-SUMATERA BARAT

    Friday, 08 September 2017 11:10
  • PTA Padang Laksanakan Pemotongan Hewan Qurban 1438 H

    Monday, 04 September 2017 15:12
  • PELANTIKAN KETUA PENGADILAN AGAMA SOLOK, PAINAN DAN TANJUNG PATI

    Wednesday, 30 August 2017 16:25
  • KPTA Padang Resmikan Lapangan Tenis Pengaadilan Agama Maninjau

    Friday, 25 August 2017 14:28
  • PTA Padang Adakan Rapat Koordinasi dan Pembinaan PA Se-Sumbar di Bukittinggi

    Friday, 25 August 2017 10:18
  • Kegiatan Penyempurnaan RKA-KL Empat Lingkungan Peradilan

    Wednesday, 23 August 2017 11:01
  • DUA PULUH LIMA ORANG MENERIMA SATYA LENCANA PADA 17 AGUSTUS 2017

    Thursday, 17 August 2017 11:18
  • Tim Self Assessment PTA Padang Melaksanakan Assessment 17 Satker Untuk Persiapan Akreditasi

    Tuesday, 15 August 2017 18:00
  • Monitoring dan Sosialisasi PNBP pada Lingkungan Peradilan Agama dan Peradilan Militer

    Thursday, 10 August 2017 16:01
  • Bincang Kegiatan Sambut HUT RI dan Mahkamah Agung RI

    Tuesday, 08 August 2017 12:25
  • Penyusunan Pagu Anggaran DIPA 005.04

    Friday, 04 August 2017 00:00
  • Pisah Sambut Wakil Ketua PTA Padang dimeriahkan “Bundo Kanduang”

    Thursday, 03 August 2017 11:35
  • TAKUT KEPADA ALLAH DALAM KEADAAN SENDIRI MAUPUN TERANG-TERANGAN

    Tuesday, 01 August 2017 14:49
  • Pelantikan Drs. H. Busra, S.H., M.H. Menjadi Wakil Ketua PTA Padang

    Tuesday, 01 August 2017 13:01
  • SEMINAR INTERNASIONAL KERJASAMA PENGADILAN TINGGI AGAMA PADANG DENGAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI IMAM BONJOL PADANG

    Friday, 28 July 2017 14:21
  • Sosialisasi Sistem Manajemen Mutu / Akreditasi dan Pemberian Piagam Penghargaan PTA Padang Sebagai Peringkat Terbaik Dalam Pengelolaan ABS

    Friday, 14 July 2017 20:00
  • Sosialisasi PERMA Nomor 14 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penyelesaian Perkara Ekonomi Syari'ah

    Friday, 14 July 2017 00:00
  • KUNJUNGAN KERJA KETUA MAHKAMAH AGUNG DI RANAH MINANG

    Friday, 07 July 2017 00:00
  • UPACARA HARI KELAHIRAN PANCASILA

    Thursday, 01 June 2017 11:30
  • Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Jabatan Kabag PTA Padang

    Wednesday, 31 May 2017 22:00
  • Peringatan Ulang Tahun IKAHI ke-64 Wilayah Sumatera Barat

    Friday, 24 March 2017 16:59
  • Silaturrahim dan Pembinaan Perdana Ketua PTA Padang di PA Pariaman

    Saturday, 18 March 2017 08:47
  • KPTA Padang Serahkan Penetapan Istbat Nikah Pada Sidang Terpadu ke Masyarakat

    Friday, 17 March 2017 11:05
  • Open House KPTA Padang, Tak Kenal Maka Tak Sayang

    Thursday, 09 March 2017 15:22
  • Rakor Perdana PTA Padang Bersama Kepemimpinan KPTA Padang

    Thursday, 09 March 2017 14:22
  • Mahkamah Agung Resmikan Tower dan 135 Pengadilan se-Indonesia, PTA Padang laksanakan Syukuran

    Tuesday, 31 January 2017 11:02
  • Pengadilan Tinggi Agama Padang Laksanakan Rapat Evaluasi Renstra

    Monday, 16 January 2017 16:54
  • Pelantikan Hakim Tinggi dan Panitera Pengganti PTA Padang

    Thursday, 12 January 2017 14:28
  • Tutup Tahun, PTA Padang Selenggarakan Pengambilan Sumpah dan Pelantikan Jabatan

    Friday, 30 December 2016 13:49
  • Penyusunan Pagu Anggaran 2018 dan Sosialisasi LKjIP

    Tuesday, 06 December 2016 16:27
  • Pelantikan Hakim Tinggi dan Ketua Pengadilan Agama Lingkungan PTA Padang

    Tuesday, 27 September 2016 16:23
  • Pengadilan Tinggi Agama Padang Mengikuti Bimbingan Teknis Ketatalaksanaan Pemberkasan Kasasi dan Peninjauan Kembali

    Friday, 23 September 2016 09:32
  • Seluruh Pejabat dan Pegawai di PTA Padang Menandatangani Pakta Integritas

    Monday, 29 August 2016 11:40
  • Peringatan HUT RI ke-71 di Pengadilan Tinggi Agama Padang

    Wednesday, 17 August 2016 09:53
  • PA Padang Panjang dan PA Solok raih Piala Bergilir Ketua PTA Padang

    Friday, 12 August 2016 08:11
  • Pengadilan Tinggi Agama Padang Korwil Terbaik Se-Indonesia

    Wednesday, 03 August 2016 08:26
  • Pelantikan Sekretaris Pengadilan Tinggi Agama Padang

    Wednesday, 03 August 2016 06:14
  • Sosialisasi Rakor Ancol Pengadilan Tinggi Agama Padang

    Monday, 01 August 2016 09:22
  • Koperasi Peradilan Agama Menuju Koperasi Syariah

    Tuesday, 26 July 2016 17:42
  • Seleksi Ujian Elektronik Calon Peserta Sertifikasi Hakim Ekonomi Syariah

    Friday, 22 July 2016 15:21
  • PTA Padang Laksanakan Halal bi Halal

    Thursday, 21 July 2016 16:50
  • Rapat Koordinasi PTA Padang

    Thursday, 21 July 2016 15:00
  • Berbuka Bersama, Tingkatkan Silaturrahim

    Friday, 24 June 2016 15:40
  • Purna Tugas Wakil Panitera PTA Padang

    Monday, 11 April 2016 12:16
  • Pelantikan Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Agama Padang

    Tuesday, 05 April 2016 00:00
  • Kunjungan Kerja Komisi III DPR RI Ke PTA Padang

    Monday, 21 March 2016 18:43
  • Pengambilan sumpah dan pelantikan Ketua

    Wednesday, 16 March 2016 09:49
  • Our Belief

    Thursday, 18 February 2016 11:26
  • Diskusi Kitab Kuning Jadi Rutinitas PTA Padang

    Friday, 12 February 2016 15:30
  • Sosialisasi SIPP versi 3.1.1

    Tuesday, 02 February 2016 16:16
  • Kunjungan Hakim Agung Dr. H. Ahmad Kamil, SH, M.Hum ke Ranah Minang

    Friday, 15 January 2016 15:46
  • Episode Baru Struktur PTA Padang Dimulai

    Thursday, 14 January 2016 12:15
  • Training of Trainers Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP)

    Tuesday, 12 January 2016 16:28
  • Pertama di Rakor Perdana Tahun 2016

    Thursday, 07 January 2016 09:47
  • Pelantikan Kabag dan Kasubag PTA Padang “Wajah Baru Stok Lama”

    Wednesday, 23 December 2015 14:35
  • PTA Padang Gelar Acara Pembinaan SOP Penyelesaian Perkara

    Sunday, 20 December 2015 21:36
  • Kegiatan Bimbingan Teknis Administrasi dan Pemutakhiran Data Kepegawaian di Lingkungan Pengadilan Tinggi Agama Padang

    Thursday, 10 December 2015 20:51
  • PELANTIKAN DAN PURNABHAKTI PANITERA PENGGANTI PTA PADANG

    Thursday, 03 December 2015 10:21
  • BERBAGI DI HUT MAHKAMAH AGUNG RI ke-70

    Thursday, 20 August 2015 11:30
  • Tak Mau Ketinggalan, Tenaga Honorer Pta Padang Terima Honor Ke-13

    Monday, 06 July 2015 10:14
  • PTA Padang, Peringati Hari Nuzul Qur'an

    Friday, 03 July 2015 20:10
  • Itsbat Nikah Pelayanan Terpadu Program Unggulan Mahkamah Agung RI

    Monday, 15 June 2015 18:54
  • Kegiatan Bimbingan Teknis Hakim Dan Kepaniteraan Peradilan Agama Di Lingkungan Pengadilan Tinggi Agama Padang

    Friday, 29 May 2015 18:54
  • Nurmainis, SH Berpulang ke Rahmatullah

    Friday, 15 May 2015 12:31
  • PTA Padang kembali berduka

    Wednesday, 06 May 2015 09:01
  • Sidang Keliling Terpadu PA Sijunjung tahun 2015 di Pulau Punjung, Dharmasraya

    Tuesday, 21 April 2015 13:06
  • Silahturahmi Hakim Agung Ahmad Kamil ke PTA Padang

    Tuesday, 07 April 2015 14:55
  • Sumbar Berduka Melepas Hj Husnaini A

    Monday, 06 April 2015 14:19
  • Ketua PTA Padang Akhiri Silaturahmi dan Pembinaan di PA Painan

    Tuesday, 31 March 2015 00:00
  • Pembinaan KPTA Padang di PA Talu

    Friday, 27 March 2015 11:32
  • Kunjungan Kerja Ketua Pengadilan Tinggi Agama Padang Ke Pengadilan Agama Solok

    Thursday, 26 March 2015 00:00
  • Silahturahmi KPTA Padang ke PA Lubuk Sikaping Terapkan Prinsip 3 Kerja Dan 4 Kesalehan

    Wednesday, 25 March 2015 15:44
  • Pembinaan Ketua PTA Padang di Pengadilan Agama Pariaman Klas IB

    Monday, 23 March 2015 11:09
  • Pembinaan KPTA Padang di PA Maninjau dan PA Lubuk Basung

    Friday, 13 March 2015 17:08
  • PEMBINAAN KETUA PENGADILAN TINGGI AGAMA PADANG MINGGU PERTAMA BULAN MARET 2015

    Friday, 06 March 2015 15:44
  • KPTA PADANG MENGHADIRI PEKAN PANUTAN PENYAMPAIAN SPT TAHUNAN PPh ORANG PRIBADI TAHUN PAJAK 2014

    Monday, 02 March 2015 17:47
  • Warna Baru Panitera/Sekretaris PTA Padang

    Monday, 16 February 2015 12:41
  • Rapat Paripurna Perdana PTA Padang di Tahun 2015

    Friday, 30 January 2015 00:00
  • Pisah Sambut Ketua Pengadilan Tinggi Agama Padang dilaksanakan di aula Gubernur Prov. Sumatera Barat

    Wednesday, 14 January 2015 17:17
  • Estafet Kepemimpinan PTA Padang, Dimulai

    Thursday, 18 December 2014 17:52
  • Meresmikan Masjid "Al-Hakiim" Jadi Kado Perpisahan Pimpinan PTA Padang

    Monday, 15 December 2014 16:16
  • Sekali Jalan, 1, 2 PA Tersinggahi

    Sunday, 07 December 2014 23:39
  • Pengambilan Sumpah dan Pelantikan Jabatan Hakim di PTA Padang

    Thursday, 27 November 2014 15:57
  • Pembinaan Teknis Dan Administrasi Mahkamah Agung RI di Bukittinggi

    Monday, 17 November 2014 00:00
  • PTA Padang Meraih 2 Gelar Juara

    Tuesday, 11 November 2014 00:49
  • Pantauan Hasil Pembangunan Gedung Kantor PA Tanjung Pati oleh KPTA Padang

    Wednesday, 05 November 2014 00:00
  • PTA Padang Laksanakan Bimbingan Teknis Ekonomi Syariah

    Tuesday, 14 October 2014 11:33
  • Hari Tasyrik, Pengadilan Tinggi Agama Padang Gunakan Untuk Berqurban

    Wednesday, 08 October 2014 14:46
  • Supervisi Gelombang I Selesai, PA Padang Panjang Terbaik dalam Pengelolaan Keuangan

    Monday, 06 October 2014 11:57
  • Pertahankan WTP, Mahkamah Agung Laksanakan Supervisi di Ranah Minang

    Wednesday, 01 October 2014 07:30
  • Pembukaan Rapat Koordinasi dan Bimtek Panitera Pengganti di PTA-Padang

    Tuesday, 30 September 2014 16:47
  • Saling mengalahkan, PTA dan PN berbagi Gelar Juara

    Monday, 29 September 2014 14:40
  • PTA Padang Ikuti Rakor Penyempurnaan RKAKL DIPA Badilag TA 2015

    Wednesday, 24 September 2014 07:30
  • Kaca Mata Positif Musibah Gempa Padang Panjang

    Friday, 12 September 2014 11:51
  • KPTA Padang Membuka Kegiatan Diskusi Hukum Wilayah III IKAHI Cabang Padang

    Thursday, 11 September 2014 12:07
  • IKAHI Cabang PTA Padang Adakan Eksaminasi Putusan Ekonomi Syariah

    Wednesday, 10 September 2014 15:50
Error
  • Error loading feed data.
Print
PDF
05
Aug

Pedoman Perilaku Hakim

Written by Administrator on 05 August 2011.

Logo Hakim

 

Pedoman Perilaku Hakim



A. PEMBUKAAN

Bahwa keadilan merupakan kebutuhan pokok rohaniah setiap orang dan merupakan perekat hubungan sosial dalam bernegara. Pengadilan merupakan tiang utama dalam penegakan hukum dan keadilan serta dalam proses pembangunan peradaban bangsa.  Tegaknya hukum dan keadilan serta penghormatan terhadap keluhuran nilai kemanusiaan menjadi prasyarat tegaknya martabat dan integritas Negara.  Hakim sebagai figure sentral dalam proses peradilan senantiasa dituntut untuk mengasah kepekaan nurani, memelihara kecerdasan moral dan meningkatkan profesionalisme dalam menegakkan hukum dan keadilan bagi masyarakat banyak.  Putusan Pengadilan yang adil menjadi puncak kearifan bagi penyelesaian pemasalahan hukum yang terjadi dalam kehidupan bernegara.  Putusan Pengadilan yang diucapkan dengan irah – irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” menunjukkan kewajiban menegakkan keadilan yang dipertanggungjawabkan secara horizontal kepada sesama manusia dan vertical kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sikap Hakim yang dilambangkan dalam kartika, cakra, candra, sari dan tirta merupakan cerminan perilaku Hakim yang harus senantiasa berlandaskan pada prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa, adil, bijaksana, berwibawa, berbudi luhur dan jujur.  Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang melandasi prinsip – prinsip pedoman Hakim dalam bertingkah laku, bermakna pengalaman tingkah laku sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.  Ketaqwaan tersebut akan mendorong Hakim untuk berperilaku baik dan penuh tanggung jawab sesuai tuntunan agama masing-masing.  Seiring dengan keluhuran tugas dan luasnya kewenangan dalam menegakkan hukum dan keadilan, sering muncul tantangan dan godaan bagi para Hakim.  Untuk itu, Pedoman Perilaku Hakim merupakan konsekuensi dari kewenangan yang melekat pada jabatan sebagai Hakim yang berbeda dengan warga masyarakat biasa.

Pedoman Perilaku Hakim ini merupakan panduan keutamaan moral bagi Hakim, Baik dalam menjalankan tugas profesinya maupun dalam melakukan hubungan kemasyarakatan di luar kedinasan.  Hakim sebagai insan yang memiliki kewajiban moral untuk berinteraksi dengan komunitas sosialnya, juga terikat dengan norma – norma etika dan adaptasi kebiasaan yang berlaku dalam tata pergaulan masyarakat.  Namun demikian, untuk menjamin terciptanya pengadilan yang mandiri dan tidak memihak, diperlukan pula pemenuhan kecukupan sarana dan prasarana bagi Hakim baik selaku penegak hukum maupun sebagai warga masyarakat.  Untuk itu, menjadi tugas dan tanggung jawab masyarakat dan Negara memberi jaminan keamanan bagi Hakim dan Pengadilan, termasuk kecukupan kesejahteraan, kelayakan fasilitas dan anggaran.  Walaupun demikian, meskipun kondisi-kondisi di atas belum sepenuhnya terwujud, hal tersebut tidak dapat dijadikan alasan bagi Hakim untuk tidak berpegang teguh pada kemurnian pelaksanaan tugas dan tanggung jawab sebagai penegak dan penjaga hukum dan keadilan yang memberi kepuasan pada pencari keadilan dan masyarakat.

Atas dasar kesadaran dan tanggung jawab tersebut, maka susunlah Pedoman Perilaku hakim ini dengan memperhatikan masukan dari Hakim di berbagai tingkatan dan lingkungan peradilan, kalangan praktisi hukum, akademisi hukum,serta pihak-pihak lain dalam masyarakat.  Pedoman Perilaku Hakim ini merupakan hasil perenungan ulang atas pedoman yang pertama kali dicetuskan dalam Kongres IV Luar Biasa IKAHI tahun 1966 di Semarang, dalam bentuk Kode Etik Hakim Indonesia dan disempurnakan kembali dalam Munas XIII IKAHI tahun 2000 di Bandung.  Untuk selanjutnya ditindaklanjuti dalam Rapat Kerja Mahkamah Agung RI tahun 2002 di Surabaya yang merumuskan 10 (sepuluh) prinsip Pedoman Perilaku Hakim.  Proses penyusunan pedoman ini didahului pula dengan kajian mendalam yang meliputi proses perbandingan serupa yang ditetapkan di berbagai Negara, antara lain Bangalore Principles.  Pedoman Perilaku Hakim ini merupakan penjabaran dari ke 10 (sepuluh) prinsip pedoman yang meliputi kewajiban-kewajiban untuk : berperilaku adil, berperilaku jujur, berperilaku arif dan bijaksana, bersikap mandiri, berintegrasi tinggi, bertanggung jawab, menjunjung tinggi harga diri, berdisiplin tinggi, berperilaku rendah hati, dan bersikap professional


B. PENGERTIAN – PENGERTIAN

1. “Hakim” adalah seluruh Hakim termasuk Hakim ad hoc pada semua lingkungan badan peradilan dan semua tingkatan peradilan.
2. “Pegawai Pengadilan” adalah seluruh pegawai yang bekerja di badan-badan peradilan.
3. “Pihak Berwenang” adalah pemangku jabatan atau tugas yang bertanggung jawab melakukan proses dan penindakan atas pelanggaran
4. “Penuntut” adalah Penuntut Umum dan Oditur Militer.


C. PENGATURAN

1.    Berperilaku Adil.

Adil pada hakekatnya bermakna menempatkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan yang menjadi haknya, yang didasarkan pada suatu prinsip bahwa semua orang sama kedudukannya di depan hukum. Dengan demikian, tuntutan yang paling mendasar dari keadilan adalah memberikan perlakuan dan memberi kesempatan yang sama (equality and fairness) terhadap setiap orang. Oleh karenanya, seseorang yang melaksanakan  tugas atau profesi di bidang peradilan yang memikul tanggung jawab menegakkan hukum yang adil dan benar harus selalu berlaku adil dengan tidak membeda-bedakan orang.

Penerapan :

1.1.    Umum
1.1.1.    Hakim tidak boleh memberikan kesan bahwa salah satu pihak yang  tengah berperkara atau kuasanya termasuk Penuntut dan saksi berada dalam posisi yang istimewa untuk mempengaruhi Hakim tersebut (fairness).
1.1.2.    Dalam melaksanakan tugas peradilan, Hakim tidak boleh, baik dengan perkataan, sikap, atau tindakan menunjukkan rasa suka atau tidak suka, keberpihakan, prasangka, membeda-bedakan atas dasar perbedaan ras, jenis kelamin, agama, kebangsaan, perbedaan kemampuan fisik atau mental, usia atau status sosial ekonomi maupun atas dasar kedekatan hubungan dengan pencari keadilan atau orang-orang yang sedang berhubungan dengan pengadilan.
1.1.3.    Hakim harus mendorong Pegawai Pengadilan, Advokat dan Penuntut serta pihak lainnya yang tunduk pada arahan dan pengawasan Hakim untuk menerapkan standar perilaku yang sama dengan Hakim sebagaimana disebutkan dalam butir 1.1.2.
1.1.4.    Hakim tidak boleh mengeluarkan perkataan, bersikap atau melakukan tindakan, yang dapat menimbulkan kesan yang beralasan dapat diartikan sebagai keberpihakan, tidak atau kurang memberikan kesempatan yang sama, berprasangka, mengancam, atau menyudutkan para pihak atau kuasanya, atau saki-saksi.
1.1.5.    Hakim harus memberi keadilan kepada semua pihak dan tidak beritikad semata-mata untuk menghukum.

1.2.    Mendengar Kedua Belah Pihak.
1.2.1.    Hakim harus memberikan kesempatan yang sama kepada setiap orang khususnya pencari keadilan atau kuasanya yang mempunyai kepentingan dalam suatu proses hukum di Pengadilan.
1.2.2.    Hakim tidak boleh berkomunikasi dengan pihak yang berperkara di luar persidangan, kecuali dilakukan di dalam lingkungan gedung pengadilan demi kepentingan kelancaran persidangan yang dilakukan secara terbuka, diketahui pihak-pihak yang berperkara, tidak melanggar prinsip persamaan perlakuan dan ketidak berpihakan.


2.    Berperilaku Jujur.

Kejujuran pada hakekatnya bermakna dapat dan berani menyatakan bahwa yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Kejujuran mendorong terbentuknya pribadi yang kuat dan membangkitkan kesadaran akan hakekat yang hak dan yang batil. Dengan demikian, akan terwujud sikap pribadi yang tidak berpihak terhadap setiap orang baik dalam persidangan maupun diluar persidangan.

Penerapan :

2.1. Umum
2.1.1. Hakim harus berperilaku jujur (fair) dan menghindari perbuatan yang tercela atau yang dapat menimbulkan kesan tercela.
2.1.2. Hakim harus memastikan bahwa sikap, tingkah laku dan tindakannya, baik di dalam maupun di luar pengadilan, selalu menjaga dan meningkatkan kepercayaan masyarakat, penegak hukum lain serta para pihak berperkara, sehingga tercermin sikap ketidakberpihakan Hakim dan lembaga peradilan (impartiality).

2.2. Pemberian Hadiah

Hakim tidak boleh meminta atau menerima dan harus mencegah suami atau istri Hakim, orang tua, anak, atau anggota keluarga Hakim lainnya, untuk meminta atau menerima janji, hadiah, hibah, warisan, pemberian, penghargaan dan pinjaman atau fasilitas dari :
a.    Advokat;
b.    Penuntut;
c.    Orang yang sedang diadili;
d.    Pihak lain yang kemungkinkan kuat akan diadili; atau
e.    Pihak yang memiliki kepentingan baik langsung maupun tidak langsung terhadap suatu perkara yang sedang diadili atau kemungkinan kuat akan diadili oleh Hakim yang bersangkutan yang secara wajar (reasonable) patut dianggap bertujuan atau mengandung maksud untuk mempengaruhi Hakim dalam menjalankan tugas peradilannya.

Pengecualian dari butir ini adalah pemberian atau hadiah yang ditinjau dari segala keadaan (circumstances) tidak akan diartikan atau dimaksudkan untuk mempengaruhi Hakim dalam pelaksanaan tugas-tugas peradilan, yaitu pemberian yang berasal dari saudara atau teman dalam kesempatan tertentu seperti perkawinan, ulang tahun, hari besar keagamaan, upacara adat, perpisahan atau peringatan lainnya, yang nilainya tidak melebihi Rp. 500.000,- (Lima ratus ribu rupiah). Pemberian tersebut termasuk dalam pengertian hadiah sebagaimana dimaksud dengan gratifikasi yang diatur dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi.


2.3. Pencatatan dan Pelaporan Hadiah dan Kekayaan.

2.3.1.Hakim wajib melaporkan secara tertulis pemberian yang termasuk gratifikasi kepada Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK) paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal gratifikasi tersebut diterima.
2.3.2    Hakim wajib menyerahkan laporan kekayaan sebelum dan setelah menjabat tanpa ditunda-tunda ,bersedia diperiksa kekayaan segera setelah memangku jabatan dan setelah  menjabat, serta wajib melakukan segala upaya untuk memastikan kewajiban tersebut dapat dijalankan secara baik, apabila diperlukan oleh  pihakyang berwenang, hakim harus bersedia diperiksa kekayaanya pada saat atau selama memangku jabatan.


3. Berperilaku Arif dan Bijaksana.

Arif dan bijaksana pada hakekatnya bermakna mampu bertindak sesuai dengan norma-norma yang hidup dalam masyarakat baik norma-norma hukum, norma-norma keagamaan, kebiasaan-kebiasaan maupun kesusilaan dengan memperhatikan situasi dan kondisi pada saat itu, serta mampu memperhitungkan akibat dari tindakannya.

Perilaku yang arif dan bijaksana mendorong terbentuknya pribadi yang berwawasan luas, mempuyai tenggang rasa yang tinggi, bersikap hati-hati, sabar dan santun.

Penerapan :

3.1. Pemberian Pendapat atau keterangan.

3.1.1    Hakim tidak boleh memberi keterangan atau pendapat mengenai substansi
Suatu perkara di luar proses persidangan pengadilan, baik terhadap perkara yang diperiksa atau diputusnya maupun perkara lain.

3.1.2    Hakim yang diberikan tugas resmi oleh Pengadilan dapat menjelaskan kepada masyarakat tentang prosedur beracara di Pengadilan atau informasi lain yang tidak berhubungan dengan substansi perkara dari suatu perkara.

3.1.3.    Hakim dapat memberikan keterangan atau menulis artikel dalam surat kabar atau terbitan berkala dan bentuk-bentuk kontribusi lainya yang dimaksudkan untuk menginformasikan kepada masyarakat mengenai hukum atau administrasi peradilan secara umum yang tidak berhubungan dengan masalah substansi perkara tertentu.

3.1.4.    Hakim dalam keadaan apapun tidak boleh memberi keterangan, pendapat, komentar, kritik, atau pembenaran secara terbuka atas suatu perkara atau putusan pengadilan baik yang belum maupun yang sudah mempuyai kekuatan hukum tetap dalam kondisi apapun.

3.1.5.    Hakim tidak boleh memberikan keterangan, pendapat, komentar, kritik atau pembenaran secara terbuka atas suatu putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap, kecuali dalam sebuah forum ilmiah yang hasilnya tidak di maksudkan untuk dipublikasikan yang dapat mempengaruhi putusan hakim dalam perkara lain.

3.2. Aktivitas Keilmuan, Sosial Kemasyarakatan

3.2.1    Hakim dapat menulis, memberikan kuliah, mengajar dan berpartisipasi dalam kegiatan keilmuan atau suatu upaya pencerahan mengenai hukum, system hukum, administrasi peradilan dan non-hukum, selama kegiatan –kegiatan tersebut tidak dimaksudkan untuk memanfaatkan posisi hakim dalam membahas suatu perkara.

3.2.2    Hakim boleh menjabat sebagai pengurus atau anggota organisasi nirlaba yang bertujuan untuk perbaikan hukum, system hukum, administrasi peradilan lembaga pendidikan dan sosial kemasyarakatan, sepanjang tidak mempengaruhi sikap kemandirian hakim.

3.2.3    Hakim tidak boleh menjadi pengurus atau anggota dari partai politik atau secara terbuka menyatakan dukungan terhadap salah satu partai politik atau terlibat dalam kegiatan yang dapat menimbulkan persangkaan beralasan bahwa hakim tersebut mendukung suatu partai politik.


4. Bersikap Mandiri

Mandiri pada hakekatnya bermakna mampu bertindak sendiri tanpa bantuan pihak lain, bebas dari campur tangan siapapun dan bebas dari pengaruh apapun.

Sikap mandiri mendorong terbentuknya perilaku Hakim yang tangguh, berpegang teguh pada prinsip dan keyakinan atas kebenaran sesuai tuntutan moral dan ketentuan hukum yang berlaku.

Penerapan :

Hakim harus menjalankan fungsi peradilan secara mandiri dan bebas dari pengaruh, tekanan, ancaman atau bujukan, baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung dari pihak manapun.

5. Berintegritas Tinggi

Integritas tinggi pada hakekatnya bermakna mempuyai kepribadian utuh tidak tergoyahkan, yang terwujud pada sikap setia dan tangguh berpegang pada nilai- nilai atau norma- norma yang berlaku dalam melaksanakan tugas.

Integritas tinggi akan mendorong terbentuknya pribadi yang berani menolak godaan dan segala bentuk intervensi, dengan mengendapkan tuntutan hati nurani untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, dan selalu berusaha melakukan tugas dengan cara-cara terbaik untuk mencapai tujuan terbaik.

Penerapan

5.1.    Umum

5.1.1.    Hakim tidak boleh mengadili suatu perkara apabila memiliki konflik kepentingan  baik karena hubungan pribadi dan kekeluargaan atau hubungan-hubungan lain yang beralasan (reasonable) patut diduga mengandung konflik kepentingan.

5.1.2.    Hakim harus menghindari hubungan, baik langsung maupun tidak langsung dengan Advokat, Penuntut dan pihak-pihak dalam suatu perkara tengah diperiksa oleh Hakim yang bersangkutan.

5.1.3.    Hakim harus membatasi hubungan yang akrab, baik langsung maupun tidak  langsung dengan Advokat yang sering berperkara di wilayah hukum Pengadilan tempat Hakim tersebut menjabat.

5.1.4.    Pemimpin Pengadilan diperbolehkan menjalin hubungan yang wajar dengan lembaga eksekutif dan legislatife dan dapat memberikan keterangan, pertimbangan serta nasihat hukum selama hal tersebut tidak berhubungan dengan suatu perkara yang sedang disidangkan atau yang diduga akan diajukan ke Pengadilan.

5.2. Konflik Kepentingan

5.2.1. Hubungan Priadi dan Kekeluargaan.
(1) Hakim dilarang mengadili suatu perkara apabila memiliki hubungan   keluarga sedarah atau semenda sampai derajat ketiga atau hubungan suami istri meskipun telah bercerai, Ketua Majelis, Hakim anggota lainnya, Penuntut, Advokat, dan Panitera yang menangani perkara tersebut.
(2) Hakim dilarang mengadili suatu perkara apabila Hakim itu memiliki hubungan pertemanan yang akrab dengan pihak yang berperkara, Penuntut, Advokat, yang menangani perkara tersebut.

5.2.2. Hubungan Pekerjaan
(1) hakim dilarang mengadili suatu perkara apabila pernah mengadili atau   menjadi Penuntut, Advokat atau Panitera dalam perkara tersebut pada persidangan di Pengadilan tingkat yang lebih rendah.
(2) Hakim dilarang mengadili suatu perkara apabila pernah menangani  hal-hal yang berhubungan dengan perkara atau dengan para pihak yang akan diadili, saat menjalankan pekerjaan atau profesi lain sebelum menjadi Hakim.
(3) Hakim dilarang menggunakan wibawa jabatan sebagai Hakim untuk mengejar kepentingan pribadi, anggota keluarga atau siapapun juga.
(4) Hakim dilarang mengijinkan seseorang yang akan menimbulkan kesan bahwa orang tersebut seakan-akan berada dalam posisi khusus yang dapat mempengaruhi Hakim secara tidak wajar dalam melaksanakan tugas-tugas peradilan.
(5) Hakim dilarang mengadili suatu perkara yang salah satu pihaknya adalah organisasi, kelompok masyarakat atau partai politik apabila Hakim tersebut masih atau pernah aktif dalam organisasi, kelompok masyarakat atau partai politik tersebut.

5.2.3. Hubungan Finansial.
(1) Hakim harus mengetahui urusan keuangan pribadinya maupun beban-beban keuangan lainnya dan harus berupaya secara wajar untuk mengetahui urusan keuangan para anggota keluarganya.
(2) Hakim tidak boleh menggunakan wibawa jabatan sebagai Hakim untuk mengejar kepentingan pribadi, anggota keluarga atau siapapun juga dalam hubungan financial.
(3) Hakim tidak boleh mengijinkan pihak lain yang akan menimbulkan kesan bahwa seseorang seakan-akan berada dalam posisi khusus yang dapat memperoleh keuntungan finansial.


5.2.4.  Prasangka dan Pengetahuan atas Fakta.
Hakim tidak boleh mengadili suatu perkara apabila Hakim tersebut telah        memiliki prasangka yang berkaitan dengan salah satu pihak atau mengetahui fakta atau bukti yang berkaitan dengan suatu perkara yang akan disidangkan.

5.3. Tata Cara Pengunduran Diri.

5.3.1. Hakim yang memiliki konflik kepentingan sebagaimana diatur dalam butir 5.2 wajib mengundurkan diri dari memeriksa dan mengadili perkara yang bersangkutan. Keputusan utntuk mengundurkan diri harus dibuat seawal mungkin untuk mengurangi dampak negatif yang mungkin timbul terhadap lembaga peradilan atau persangkaan bahwa peradilan tidak dijalankan secara jujur dan tidak berpihak.

5.3.2. Apabila muncul keragu-raguan bagi Hakim mengenai kewajiban mengundurkan diri memeriksa dan mengadili suatu perkara lebih baik memilih mengundurkan diri.

6. Bertanggungjawab.

Bertanggung jawab pada hakekatnya bermakna kesediaan dan keberanian untuk     melaksanakan semua tugas dan wewenang sebaik mungkin serta bersedia menangung segala akibat atas pelaksanaan tugas dan wewenang tersebut.

Rasa tanggung jawab akan mendorong terbentuknya pribadi yang mampu menegakkan kebenaran dan keadilan, penuh pengabdian, serta tidak menyalahgunakan profesi yang diamankan.



Penerapan :

6.1. Penggunaan redikat Jabatan.
Hakim tidak boleh menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan pribadi atau pihak lain.

6.2. Penggunaan Informasi Peradilan.
Hakim tidak boleh mengungkapkan atau menggunakan informasi yang bersifat rahasia, yang didapat dalam kedudukan  sebagai Hakim, untuk tujua yang tidak ada hubungan dengan tugas-tugas peradilan.

7. Menjunjung Tinggi Harga Diri.

Harga diri pada hakekatnya bermakna bahwa pada diri manusia melekat martabat dan kehormatan yang harus dipertahankan dan dijunjung tinggi.

Prinsip menjunjung tinggi harga diri, khususnya Hakim, akan mendorong dan membentuk pribadi yang kuat dan tangguh, sehingga terbentuk pribadi yang senantiasa menjaga kehormatan dan martabatnya sebagai aparatur Peradilan.

Penerapan :

7.1 Umum.

Hakim harus mejaga kewibawaan serta martabat lembaga Peradilan dan profesi baik di dalam maupun di luar pengadilan.

7.2. Aktifitas Bisnis.
Hakim dilarang terlibat dalam transaksi keuangan dan transaksi usaha yang berpotensi memanfaatkan posisi sebagai Hakim.

7.3. Aktifitas lain.
Hakim dilarang menjadi Advokat, atau Pekerjaan lain yang berhubungan dengan perkara.

7.3.1. Hakim dilarang bekerja dan menjalankan fungsi sebagai layaknya seorang     Advokat, kecuali jika :
a. Hakim tersebut menjadi pihak di persidangan; atau
b. Memberikan nasihat hokum Cuma-Cuma untuk anggota keluarga atau             teman yang tengah menghadapi masalah hukum.
7.3.2. Hakim dilarang bertindak sebagai arbiter atau mediator dalam kapasitas pribadi, kecuali bertindak dalam jabatan yang secara tegas dipertintahkan atau diperbolehkan dalam undang-undang atau peraturan lain.
7.3.3. Hakim dilarang menjabat sebagai eksekutor, administrator atau kuasa pribadi lainnya, kecuali untuk urusan pribadi anggota keluarga Hakim tersebut, dan hanya diperbolehkan jika kegiatan tersebut secara wajar (reasonable) tidak akan mempengaruhi pelaksanaan tugasnya sebagai Hakim.
7.3.4. Hakim dilarang melakukan rangkap jabatan yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.

7.4. Aktifitas Masa Pensiun.
Mantan Hakim sangat dianjurkan da sedapat mungkin tidak menjalankan pekerjaan sebagai Advokat yang berpraktekdi Pengadilan terutama di lingkungan peradilan tempat yang bersangkutan pernah menjabat, sekurang-kurangnya selama 2 (dua) tahun setelah memasuki masa pensiun atau berhenti sebagai Hakim.


8. Berdisiplin Tinggi

Disiplin pada hakekatnya bermakna ketaatan pada norma-norma atau kaidah-kaidah yang diyakini sebagai panggilan luhur untuk mengemban amanah serta kepercayaan masyarakat pencari keadilan.
Disiplin tinggi akan mendorong terbentuknya pribadi yang tertib di dalam melaksanakan tugas, ikhlas dalam pengabdian, dan berusaha untuk menjadi teladan dalam lingkungannya, serta tidak menyalahgunakan amanah yang dipercayakan kepadanya.

Penerapan

8.1. Hakim berkewajiban mengetahui dan mendalami serta melaksanakan tugas pokok sesuai dengan peraturan perundangan-undangan yang berlaku, khususnya hukum acara, agar dapat menerapkan hukum secara benar dan dapat memenuhi rasa keadilan bagi setiap pencari keadilan.

8.2. Hakim harus menghormati hak-hak para pihak dalam proses peradilan dan berusaha mewujudkan pemeriksaan perkara secara sederhana, cepat dan biaya ringan.

8.3. Hakim harus membantu para pihak dan berusaha mengatasi segala hambatan dan     rintangan untuk mewujudkan peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

8.4. Ketua Pengadilan atau Hakim yang ditunjuk, harus mendistribusikan perkara kepada  Majelis Hakim secara adil dan merata, serta menghindari pendistribusian perkara kepada Hakim yang memiliki konflik kepentingan.

9.  Berperilaku Rendah Hati


Rendah hati pada hakekatnya bermakna kesadaran akan keterbatasan kemampuan diri, jauh dari kesempurnaan dan terhindar dari setiap bentuk keangkuhan.
Rendah hati akan mendorong terbentuknya sikap realistis, mau membuka diri untuk terus belajar, menghargai pendapat orang lain, menumbuh kembangkan sikap tenggang rasa, serta mewujudkan kesederhanaan, penuh rasa syukur dan ikhlas di dalam mengemban tugas.

Penerapan:
9.1. Pengabdian.

Hakim harus melaksananakan pekerjaan sebagai sebuah pengabdian yang tulus, pekerjaan Hakim bukan semata-mata sebagai mata pencaharian dalam lapangan kerja untuk mendapat penghasilan materi, melainkan sebuah amanat yang akan dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan Tuhan Yang Maha Esa.

9.2 Popularitas
Hakim tidak boleh bersikap, bertingkah laku atau melakukan  tindakan mencari popularitas, pujian, penghargaan dan sanjungan dari siapapun juga.

10. Bersikap Profesional.

Profesional pada hakekatnya bermakna suatu sikap moral yang dilandasi oleh tekad untuk melaksanakan pekerjaan yang dipilihnya dengan kesungguhan, yang didukung oleh keahlian atas dasar pengetahuan, keterampilan dan wawasan luas.
Sikap profesional akan mendorong terbentuknya pribadi yang senantiasa menjaga dan mempertahankan mutu pekerjaan, serta berusaha untuk meningkatkan pengetahuan dan kinerja, sehingga tercapai setinggi-tingginya mutu hasil pekerjaan, efektif dan efisien.

Penerapan :
10.1. Hakim harus mengambil langkah-langkah untuk memelihara dan meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kualitas pribadi untuk dapat melaksanakan tugas-tugas peradilan secara baik
10.2. Hakim harus secara tekun melaksanakan tanggung jawab administrasi dan bekerja sama dengan para Hakim dan pejabat pengadilan lain dalam menjalankan administrasi peradilan.


D. PENUTUP

1. Hakim yang mengetahui atau menerima informasi yang dapat dipercaya bahwa seorang hakim lain telah melakukan pelanggaran terhadap peraturan ini harus melakukan upaya yang layak untuk menghindari hal tersebut berulang atau dapat menimbulkan perlakukan yang tidak adil bagi para pihak, termasuk memberikan perlakukan yang tidak adil bagi para pihak, termasuk memberikan perlakukan yang tidak adil bagi para pihak, termasuk memberikan informasi kepada pihak yang berwenang dalam pengawasan Hakim. Membiarkan pelanggaran, adalah bertentangan dengan semangat membela korps Hakim dan lembaga peradilan pada umumnya. Pelanggaran yang dilakukan oleh individu-individu hakim pada akhirnya akam melahirkan ketidakpercayaan masyarakat pada seluruh Hakim dan lembaga peradilan.

2. Setiap Pimpinan Pengadilan harus berupaya sungguh-sungguh untuk memastikan agar Hakim di dalam lingkungannya mematuhi Pedoman Perilaku Hakim ini.

3. Pelanggaran terhadap Pedoman ini dapat diberikan sanksi. Dalam menentukan sanksi yang layak dijatuhkan, harus dipertimbangkan factor-faktor yang berkaitan dengan pelanggaran, yaitu latar belakang, tingkat keseriusan, dan akibat dari pelanggaran tersebut terhadap lembaga peradilan maupun pihak lain.

Publikasi Putusan PA